Feeds:
Pos
Komentar

Catatan Februari

Tanggal 16 Februari kemarin, hari Selasa yang cerah di tahun 2015 ini, mungkin akan menjadi salah satu hari yang akan kusimpan baik-baik dalam ingatanku. Hari itu adalah hari ulang tahun keponakanku yang ke-5 sekaligus hari ujian hasil penelitianku, alias ujian skripsi. Dumb-dumb gleter mungkin sudah biasa untuk setiap mahasiswa tingkat akhir yang akan melaluinya, namun kali ini kurasa berbeda. Jauh berbeda ketika menjelang ujian pengajuan seminar penelitian. Dulu, aku khawatir akan dicecar dengan berbagai pertanyaan yang tidak bisa ku jawab. Tetapi untuk kali ini, sepertinya kekhawatirannya beralih topik. Bukannya memikirkan tentang pertanyaan-pertanyaan apa yang akan dilontarkan dosen penguji, malah jauh ke depan lagi, sebuah pertanyaan tentang pintu yang sudah di ambang mata. Pintu kehidupan nyata, yang mau tak mau harus dijalani dengan hati yang ikhlas atau tidak ikhlas. That’s the real worry..

Imajinasiku mulai bekerja, distimulus oleh hasil cari-carita dengan orang-orang yang berada di sekitarku. Entah kenapa makin lama makin berat rasanya. Semakin dipikir semakin banyak persoalan yang menjejali. Ini masalah pilihan, memilih atau terpaksa memilih. Aku berasumsi, aku harus memilih bukan terpaksa memilih. Sebelum itu baiknya aku perjelas mengenai memilih dan terpaksa memilih ini.

Para mahasiswa yang terfakultas di berbagai gedung kampus, dengan bidangnya masing-masing yang mereka pelajari mulai dari semester pertama hingga semester terakhir -atau semester tertentu yang dianggap terakhir- pasti punya minat dan bakat masing-masing. Dalam kenyataannya, terkadang mereka harus menerima fakultas yang tidak berkenan dengan minat atau bakatnya. Kebanyakan mahasiswa akan menyadarinya saat yang bersangkutan telah menjalani proses perkuliahan selama beberapa waktu. Ada yang gelisah dengan jurusan pilihannya yang ternyata dipilihkan oleh orangtuanya, ada yang galau bingits karena menganggap jurusannya tidak jelas bagaimana kelanjutannya di masa depan, dan yang paling parah jika mengalami stres akibat membanjirnya tugas yang tak disangka akan diberikan di jurusannya. Jadilah mahasiswa ini menjalani proses transformasi ilmu pengetahuan dengan hati yang tersiksa, yang dalam hatinya bertekad untuk lulus secepatnya -demi membebaskan dirinya dari tugas-tugas dan perasaan gelisah di ruang kuliah karena dosennya yang terlalu lama-. Sungguh kondisi yang buruk, menerima ilmu dengan terpaksa. Meskipun pihak universitas mewadahi dengan berbagai macam organisasi minat dan bakat kemahasiswaan, namun tidak bisa memaksimalkan potensi besar yang ada pada diri mahasiswa yang “salah jurusan”. Ada yang sebetulnya berbakat dibidang IT malah terjebak di jurusan Farmasi. Ada yang jiwanya di jurusan humaniora, tapi masuk jurusan keperawatan. Jadilah kata-kata “nantipi diliat”, “takkalamki sudah bayar spp”, atau “jalani saja dulu” menjadi andalan mahasiswa. Sebagai bahan pemikiran, coba kita kembali melihat model pendidikan di luar negeri. Dari usia kanak-kanak mereka dibimbing untuk menggali potensi apa yang mereka miliki. Berbagai-bagai cara diterapkan untuk bisa mengetahui minat dan bakat apa yang dipunyai oleh setiap individu. Nantinya mereka akan diarahkan sesuai bakatnya masing-masing. Everybody can be an expert, setiap orang bisa menjadi ahli dibidangnya masing-masing. Jadi dalam aspek kognitif, tak akan ada lagi yang membanding-bandingkan yang paling pintar dengan yang paling bodoh dengan indikator yang berbeda. Mahasiswa fakultas sastra tidak bisa dianggap lebih pintar atau lebih bodoh dibanding dengan mahasiswa fakultas ekonomi, karena berbeda ilmu masing-masing yang berarti berbeda pula parameter ilmunya. Yang ada hanya mahasiswa yang menguasai bidangnya masing-masing, yang akan maksimal jika sesuai dengan keinginan jiwanya. Inilah yang kumaksud dengan terpaksa memilih. Pertama memilih jurusan yang salah, dan berimbas pada terpaksa memilih yang selanjutnya, yakni menentukan pekerjaan.

Dari kesalahan awal inilah yang ternyata akan berpengaruh besar terhadap apa yang dihadapi kedepannya. Salah memilih jurusan, menjadikan mahasiswa menjalani proses perkuliahan dengan risih. Rasa malas, ogah-ogahan ngampus dan berbagai prilaku negatif menjadi efek sampingnya. Masih mumpung bagi mahasiswa yang bisa bergabung di organisasi minat dan bakat kemahasiswaan, mereka bisa memilih sesuai minat dan bakatnya, yang berarti mengurangi efek samping tadi. Namun bagaimana dengan mahasiswa yang bermasa bodoh? Tinggallah kau sendiri terombang-ambing di lautan nasib, mengikuti kemana angin akan membawa. What a pity.. Dan hal ini kembali berdampak buruk nantinya setelah sarjana. Mau kemana kita? kata Dora. Apakah terpaksa lagi untuk yang kedua kalinya, terpaksa memilih bidang pekerjaan yang tidak linier dengan bidangmu? Dengan alasan bahwa zaman ini adalah zaman multitalent? Alangkah enaknya bekerja dengan ikhlas karena sesuai dengan bidang keahlianmu, alangkah baiknya tata kelola negeri ini kalau semua orang yang menjalankannya bekerja pada bidangnya masing-masing. Dan hal ini harus dimulai dari hal yang kecil, yang merupakan komponen dari hal-hal besar.

Satu hal yang baik untuk direnungkan baik-baik, ingatlah bahwa KAMULAH YANG MENENTUKAN NASIBMU SENDIRI, BUKAN LINGKUNGANMU, BUKAN PULA ORANG-ORANG DI SEKITARMU. Buatlah beberapa rencana yang baik, dan jadikanlah segala sesuatunya berjalan sesuai rencanamu…

Makassar, 25 Februari 2015

#iseng01: bagaimana menjelaskan arti kata “otomatis” pada anak umur 5 tahun?

Iklan

Prosesi pengaderan mahasiswa merupakan serangkaian proses pembentukan karakter mahasiswa yang sadar akan tanggung jawab dan perannya dalam masyarakat, dengan pemberian bekal paradigma untuk mencari jalan keluar dari sebuah masalah, menemukan solusi atas persoalan-persoalan sosial yang ada disekitarnya.

Gambar

Pengaderan, Pengkaderan atau Perkaderan?      

Secara etimologis, kata “kader” berasal dari akar kata en cadre yang diserap kedalam bahasa Indonesia. Kata ini jika dibentuk menjadi kata benda dalam struktur tatabahasa Indonesia akan menjadi kata pengaderan yang berarti proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader[1]. Jika kita mencari asal kata tersebut, kata “kader” berakar pada kata en cadre berarti “a French expression originally denoting either the complement of commissioned officers of a regiment or the permanent skeleton establishment of a unit, around which the unit could be built if needed.”[2] Sebuah ungkapan dari bahasa Perancis yang merujuk kepada orang atau individu yang bakal menduduki posisi penting ataupun sebagai pelengkap dalam tataran organisasi militer, baik pada unit kerja yang sudah ada atau unit kerja yang akan dibentuk. Hal ini jika dikaji baik-baik maka akan didapatkan kenyataan bahwa kata “kader” ternyata ditujukan untuk menyebut calon pengisi posisi struktural dalam ruang lingkup ketentaraan. Namun hal ini tidak mengamini bahwa pengaderan adalah proses yang keras dari segi fisik, karena berbeda dari sisi konteksnya.  Dalam konteks kemahasiswaan yang notabene kaum akademisi, maka pola kaderisasi dapat diakulturasikan sesuai dengan tujuannya. Hal ini berarti prosesi pengaderan boleh keras, asalkan dalam tataran pemikiran.

Sebuah gerakan sosial sangat membutuhkan kader, terutama lembaga kemahasiswaan. Fungsi-fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan, agen kontrol sosial, dan moral force bisa dijalankan dengan baik hanya jika individu  atau mahasiswa yang bersangkutan telah melalui prosesi pengaderan yang betul-betul mengarahkan dan mendidik mahasiswa untuk menuju hal tersebut. Maka pengaderan menjadi hal yang sangat penting untuk menjadikan mahasiswa benar-benar menjadi individu yang posisi dan kapasitasnya sebagai mahasiswa. Bukannya menjadi mahasiswa yang apatis dan tidak peka terhadap fenomena-fenomena sosial yang ada disekitarnya. Ketidaktahuan akan menimbulkan kebuntuan berpikir dan bertindak. Hal ini tentunya tidak terlepas dari siapa yang menjalankan proses tersebut dan apa saja yang dilakukan didalamnya.

Dunia kampus yang penuh dengan hal-hal baru untuk mahasiswa baru mungkin bisa menjadi jawaban paling masuk akal untuk pertanyaan “mengapa seorang mahasiswa baru mesti mengikuti prosesi pengaderan?”. Hal ini tak lepas dari dinamika posisi mahasiswa yang selama ini sering dicitrakan buruk melalui pembentukan opini publik dan dijadikan bulan-bulanan oleh media dengan munculnya pemberitaan-pemberitaan tentang tawuran mahasiswa, demonstrasi anarkis, bentrok, dan hal-hal lainnya, yang menjadi kenyataan yang mungkin sulit untuk diterima publik mengingat bahwa mahasiswa adalah orang-orang yang dianggap tingkat intelektualitasnya sudah berada di atas masyarakat awam.

Pencitraan buruk inilah yang biasanya ditelan mentah-mentah oleh mahasiswa baru tanpa mencoba mengklarifikasi kebenarannya, sehingga membuat mereka enggan untuk mengikuti proses pengaderan yang dilaksanakan oleh lembaga kemahasiswaan. Oleh karena itu, untuk menghilangkan citra buruk tersebut mahasiswa baru perlu diberi seperangkat alat analisa agar bisa membedah persoalan-persoalan yang kemudian muncul, berkiprah, dan mempertahankan eksistensinya sebagai mahasiswa yang benar-benar mahasiswa. Bukan hanya sekedar anak kuliahan yang berkedok mahasiswa. Disinilah kaderisasi itu menjadi kebutuhan yang sangat vital bagi mahasiswa baru.

Mahasiswa baru atau kerap disingkat maba, merupakan objek utama dalam proses pengaderan. Pasalnya, mahasiswa yang baru mengenal dunia kampus sangat berpotensi dan memiliki kesempatan serta waktu yang cukup panjang dalam dunia kemahasiswaan sehingga perlu dikembangkan kemampuannya dalam berlembaga. Namun bukan berarti bahwa mahasiswa baru datang dalam keadaan “kosong” sehingga harus diisi, tetapi hanya butuh pengarahan pemikiran. Calon kader-kader potensial ini harus ditatar sedemikian rupa sehingga dapat menjadi mahasiswa-mahasiswa yang mampu menjalankan perannya sekaligus sebagai media pembelajarannya tentang dinamika keorganisasian yang tidak mereka dapatkan di ruang-ruang kuliah.

Prosesi pengaderan ini biasanya disesuaikan dengan kultur organisasi untuk meminimalisir adanya pergesekan-pergesekan ideologi antar aliran pemikiran. Nantinya setelah mahasiswa baru memiliki paradigmanya sendiri, maka dengan sendirinya pola-pola pemikiran tersebut akan berkembang menjadi lebih maju. Untuk itu kerjasama dari pihak birokrasi pun sangat diperlukan untuk bahu-membahu dengan lembaga kemahasiswaan dalam proses pengaderan mahasiswa baru.

Peran Mahasiswa

Perbedaan jenjang pendidikan menimbulkan perbedaan sebutan untuk individunya. Individu yang sedang menjalani pendidikan ditingkat sekolah dasar disebut murid SD, sekolah menengah pertama disebut pelajar SMP, sekolah menengah atas disebut siswa SMA, dan ketika telah duduk di bangku kuliah, maka sebutannya berubah menjadi mahasiswa. Hal ini berarti juga adanya perubahan peran, dari murid menjadi mahasiswa.

Seringkali hal ini tidak dipahami secara gamblang oleh orang-orang yang mengaku dirinya mahasiswa. Mereka hanya menggunakan label mahasiswa untuk menunjukkan bahwa telah terjadi perpindahan tingkat pendidikan dari sekolah menengah ke tingkat diatasnya, yakni tingkatan universitas. Alasan lain yang mungkin diterima adalah bahwa sebenarnya mereka memiliki pengetahuan tentang peran dan fungsinya, hanya saja ideologi pragmatis-hedonis membuatnya berpaling dan menjadikan hal itu hanya sebatas wacana yang menarik untuk diperbincangkan. Hal ini menimbulkan sikap apatis alias tak acuh terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dan perlu untuk diadvokasi.

Seorang mahasiswa dituntut peka terhadap fenomena sosial yang terjadi disekitarnya, sesuai dengan perannya sebagai agent of change, social control, dan moral force. Dalam kelas sosial, mahasiswa ditempatkan dalam kelas peri-peri, yang olehnya titik perubahan dipicu. Ketika terjadi ketimpangan yang diakibatkan oleh pengambilan kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, maka mahasiswa sebagai representasi dari rakyat yang intelek seharusnya bergerak menentang kebijakan tersebut sebagai konsekuensi dari sebuah negara yang menganut sistem demokrasi. Oleh karena iu, maka mahasiswa perlu disadarkan perannya melalui mekanisme pengaderan.

Tahap-Tahap Pengaderan

  1. Tahap Penerimaan

Tahap penerimaan dimaksudkan agar seluruh mahasiswa baru atau calon kader dapat diterima secara resmi sebagai bagian dari keluarga mahasiswa (KEMA) dengan mekanisme penerimaan yang telah disusun oleh pihak lembaga kemahasiswaan fakultas masing-masing. Hal ini bertujuan agar terjadi ikatan kekeluargaan yang hangat antar anggota KEMA yang baru dengan anggota KEMA yang lama. Tahap ini menjadi semacam tahap perkenalan dengan lingkungan sosial, kultur, dan fakultas tempat mahasiswa itu akan berproses.

  1. Tahap Pengaderan Awal

Pada tahap ini, mahasiswa baru diarahkan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan latihan kepemimpinan pemula untuk melatih jiwa-jiwa pemimpin serta menjadi awal pembentukan karakter mahasiswa baru. Calon kader mulai dilibatkan sebagai peserta dalam berbagai pelatihan, pendidikan, diskusi, dan kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya mendidik, tentunya dengan tetap memperhatikan prioritas utama, yakni mendukung proses transformasi ilmu pengetahuan.

  1. Tahap Pengaderan Lanjutan

Latihan kepemimpinan yang lebih intens dan progresif, pelibatan langsung mahasiswa baru atau calon kader dalam kegiatan-kegiatan kepanitiaan, serta menjadi penggerak kegiatan kemahasiswaan dimulai pada tahap ini. Pengenalan filsafat, pengajaran pola-pola kerja organisasi, dan pergerakan sosial serta metode pemecahan masalah pun diajarkan.

  1. Tahap Pengukuhan dan Regenerasi

Pada tahap pengukuhan dan regenerasi, secara seremonial dilakukan pengukuhan dari calon kader menjadi kader yang siap mengisi posisi-posisi struktural dan fungsional organisasi. Hal ini ditandai dengan adanya pengalihan kekuasaan dalam lembaga kemahasiswaan dari pengurus lama ke pengurus baru, yang berarti berakhirnya masa jabatan pengurus lama.           

Tahap-tahap diatas mungkin telah dilalui seluruhnya, namun  pengaderan tetap berlangsung selama menjadi mahasiswa. Baik itu untuk calon kader, kader baru, ataupun kader lama. Transformasi ilmu pengetahuan tidak berhenti hanya karena proses tersebut diatas telah dilewati, karena ilmu pengetahuan akan terus berkembang mengikuti zaman, dan pendidikan harus terus berjalan.


[1] Kamus Bahasa Indonesia: Apollo Surabaya hal.314

Bidadari Kcilku yang baik,
Mungkin Engkau telah lelap malam ini
Namun aku tahu, lelapmu itu bukan tanpa arti
Letihmu menghadapiku, membawamu ke alam mimpi yang indah
Tempat dimana Engkau bernyanyi sesuka hati..

Bidadariku Kcilku yang baik,
Aku tahu Engkau lelah,
Aku tahu Engkau merasa tersiksa karenaku
Namun biarkanlah aku mohon padamu satu kata dalam diamku
Maaf…

Bidadariku Kcilku yang baik,
Rasa ego mungkin telah menebal dalam hatiku,
Sulit untuk kubendung dan terus berhembus seperti angin malam,
Tapi semua itu sirna tatkala kulihat gambar dirimu,
Yang menjadi wallpaper dikomputerku.
Senyummu ternyata telah mengalihkan duniaku..

Bidadariku Kcilku yang baik,
Puisi mungkin tak mewakili adanya aku didekatmu
Tapi biarlah puisi ini kutulis sebagai ungkapan kerinduanku akan hadirmu
Walau aku tahu, Engkau tak pernah tahu betapa saat ini kuingin kau disampingku
Namun yakinlah saat itu akan tiba..

Bidadari Kcilku yang baik,
Tetesan embunpun akan cemburu mendengarnya..
Sungguh aku ingin memiliki dirimu
Kembali menyatu dengan diriku
Setelah sekian lama aku tunggu datangnya dirimu..

Renungan..

Pernah tidak kita berpikir tentang apa sebetulnya hakikat dari “hidup”?..
Kita mulai dari sebuah analogi nyata dan sederhana tentang apa sebetulnya yg sedang kita jalani ini.. Siapa kita 100 tahun yg lalu? 50 tahun yg lalu? 25 tahun yang lalu? Bukankah diri kita bukan siapa2 dan bukanlah apa-apa..
Perjalanan kita dimulai ketika kita berproses dlm rahim ibu, selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari.. Lahir ke dunia dgn tdk tahu apa-apa.. Kemudian melewati masa kanak-kanak, yg kerjanya hanya bermain sepanjang waktu.. Selanjutnya masa pendidikan dasar, SD, SMP, SMA, dan ternyata setelah lulus, kuliah selama 4 tahun, setelah itu cari kerja, nikah, punya anak, punya cucu, akhirnya mati..Hilanglah raga kita dari muka bumi, kembali menyatu dengannya.. Selesai.. Dan pintu pertanggungjawaban dibuka.. Masihkah kita menyombongkan diri, pdhl semuanya akan hilang tak berbekas..Motormu, mobilmu, dan Blackberry kesayanganmu takkan bisa menolongmu..
Kalau kita mencoba berpikir lebih jernih, kita akan melihat bahwa semua itu ternyata berbentuk siklus, siklus dari kehidupan yg sementara kita jalani ini..
Tiap hari, bangun tidur, kemudian tidur lagi.. Esoknya semua kembali berulang..Dan suatu saat akan tidur, dan tak akan bangun lagi..
Waktu demi waktu berlalu, umur makin sedikit.. Pdahal bekal kita blum cukup, dan jauh dari cukup..Dan kita semua tahu, bahwa setiap apa yg kita lakukan akan tercatat dan direkam baik2 untuk kemudian dipertanggungjwbkan..
Lantas, bgmna kita akan mempertanggungjwabkan apa yg kita perbuat?
Hal itu tentu tak perlu kita persoalkan, krn hal itu wewenang Yang Maha Pencipta.. Dia tahu substansi dari makhluk-Nya.
Yg perlu kita lakukan hanyalah berbenah diri.. Mencoba mengurangi dosa-dosa yg biasa kita lakukan, dan selalu berusaha untuk senantiasa bermanfaat bagi org lain..Mudah2n Allah SWT berkenan membuka hati kita, dan mengampuni dosa-dosa yg telah kita perbuat. Amiin ya Rabbal Alamin. Mulailah hidupmu yg baru kawand..Wslm..

Makassar, 8 Mei 2010

Zeus Sovetzkaya

nulis... Ini mungkin pengalaman yang “kembali” pertama kalinya aQ kembali menulis. Rindu dengan cerpenku yang tertunda di mading edisi SMADA dulu. Hehehe..

Kemarin malam, 2 Mei 2010, ada seorang motivator besar yang membuatku merasa terbangkitkan dari lamunan yang begitu lama membelengguku, membuatku tersentak dan berpikir “ternyata aku bisa menulis, dan aku adalah seorang penulis”..

Banyak sekali pelajaran berharga yang kudapatkan di sana. Mulai dari bagaimana menulis yang baik, tentang bagaimana mengatasi minat menulis yang kadang-kadang timbul tenggelam, dan yang paling berkesan bagiku adalah bagaimana menulis dengan hati..

Mungkin sekedar berbagi dengan kawan-kawan pembaca sekalian, bukan untuk menggurui atau menganggap diri Q lebih baik, tapi just share about an experience.

Katanya sih, menulis itu gampang banget. Ambil kertas, ambil pulpen kemudian mulailah menulis..

Tulislah sesuatu yang menurutmu patut untuk ditulis. Mungkin sebuah cerita tentang pengalaman cinta pertamamu, ataukah puisi yang kau tujukan pada seorang wanita pujaanmu, ataukah tentang pengalaman orang lain yang menurutmu patut untuk dituangkan ke dalam kertas.

Buang semua pikiranmu tentang royalti (keuntungan berupa materi, red) dan mulailah menulis dengan hati. Tulis apa yang kau rasakan, apa yang kau inginkan, dan hayati baik-baik..

Deskripsikan apa yang ada dalam pikiranmu sehingga kata-kata yang keluar dari ujung penamu mengalir seperti air.. Rasakan gemericiknya, suasana yang tenang, dan teruslah menulis. Pejamkan matamu, dan pikirkan 3 kata. “AKU BISA MENULIS”.

Makassar, 3 Mei 2010

Rhinaldy Buster

Kawan-kawan, mungkin hal ini bukan sesuatu yang baru bagi kalian.. Banyak yang bilang, kalo hatimu sedang gundah, banyak masalah, pusing, lebih baik keluarlah sebentar.. Tengok tuh bintang diluar sana. Mungkin dengan nongolin kepala ke luar jendela. Dan mulailah memikirkan hal-hal yang telah kita lalui. Mulai dari hari-hari dimana kita masih bisa mengingatnya, sampai apa yang barusan terjadi dengan diri kita hari ini.

Kemarin.. begitu banyak persoalan yang ter’gudang’kan dalam otak ini. Dan mungkin aku berhasil membuktikan teori bintang ini. Berbaring menatap bintang di ruang terbuka, melepaskan segala gundah dalam hati, berteriak sekuat-kuatnya dalam hati, seolah suara kita ini bergema di seantero angkasa yang luas tanpa batas.. Dan semua masalah terasa menjadi mudah untuk diselesaikan. Dan semangat berkobar lagi..Perjalanan masih panjang kawan.

Pernah tidak kita memikirkan apa yang akan kita hadapi esok hari? Sesuatu yang belum pasti kawan. Kita hidup.. Mungkin hidup kita ini hanya tinggal beberapa puluh tahun lagi, atau bahkan bisa beberapa menit lagi. Tak ada yang tahu.

Seperti kata orang bijak “Tembaklah bulan, jika tak kena setidaknya mendapatkan bintang”.. Jalani kehidupan dan berusaha untuk selalu bermanfaat bagi orang lain. Gajah dikenang karena gadingnya, manusia dikenal karena perangainya.

Makassar, 6 April 2010

Rhinaldy Buster

liputan6.com

Manusia mana yang tak pernah menangis? Hampir tidak ada. Karena itu adalah fitrah manusia. Sedingin dan sebeku apa hati seseorang, bukan berarti ia tidak pernah menangis, setidaknya sewaktu ia bayi. Selama ini sejumlah ilmuwan telah mengaitkan aktivitas menangis dengan beberapa hal, seperti membantu menyingkirkan kimiawi stres dalam tubuh. Aktivitas mengundang air mata ini juga ditengarai mampu membuat perasaan menjadi lebih baik, nyaman, dan tenang. Bahkan bagi bayi, menangis dapat disimbolkan sebagai pemberitahuan bahwa ada masalah pada bayi.

Kini ilmuwan menambah satu lagi daftar fungsi menangis dalam kehidupan manusia. Oren Hasson, seorang ilmuwan dari Univesitas Tel Aviv, Israel, mengungkap menangis dapat dijadikan sebagai penghalang keagresifan yang dimiliki seseorang. Dengan air mata seseorang sebenarnya tengah menurunkan mekanisme pertahanan dirinya dan memberikan simbol dirinya tengah menyerah. Di dalam relasi kelompok, menangis bisa dianggap sebagai bentuk keterpaduan antara satu dengan lainnya. Lantaran alasan itulah menangis dapat membuat hubungan sosial menjadi lebih dekat, sehingga mampu memupuk persahabatan menjadi lebih langgeng.

Apakah itu berlaku dalam hubungan petemanan saja? Sepertinya tidak. “Jika engkau ingin menunjukkan penyerahan diri pada lawan dan menarik simpati darinya, engkau bisa menangis,” ujar Oren Hasson, seperti dikutip Livescience. Ia sepertinya ingin mengatakan hubungan “pertemanan” dengan musuh juga bisa dibangun lewat menangis.

Meski demikian menangis tidak akan selalu manjur dalam beberapa kondisi. Oleh sebab itu dalam beberapa kesempatan menangis justru tak dapat memberikan dampak seperti yang diperkirakan. Bahkan sebaiknya dihindari. Dalam bekerja misalnya, aktifitas menangis bahkan sebaiknya tak perlu ditampakkan. Mungkin dalam bekerja menangis justru akan ditanggapi sebagai bentuk kelemahan dan sifat menyerah yang sangat dijauhi dalam dunia kerja. Tapi mungkin tak berlaku untuk profesi yang menuntut empati.(DIO)